Arsip

Archive for the ‘Review’ Category

Januari 2010 Want-to-Read List

Desember 23, 2009 mulinnuha 1 comment

Januari 2010 bertepatan dengan liburan semester 3. Waktu yang tepat buat menghibur diri dengan membaca novel :p. Dan berikut adalah novel yang masuk Want-to-Read List-ku. Semoga juga bisa menjadi referensi bagi Anda :)

1. The Rainbow Troops (Laskar Pelangi Versi Bahasa Inggris) – Andrea Hirata
The Rainbow Troops CoverDiterbitkan 17 Desember 2009 lalu, novel ini, setahuku, adalah novel pertama Indonesia yang dialihbahasakan ke Bahasa Inggris. Tidak hanya novelnya yang bestseller, filmnya pun berhasil menyihir ribuan pemirsa. Tidak heran kalau novel ini kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh bule bernama Angie Kilbane. Tentunya tidak mudah menerjemahkan sebuah novel dengan latar belakang budaya lokal yang kental karena penerjemah selain menerjemahkan bahasa juga dituntut menerjemahkan budaya dari novel tersebut, dan Angie berhasil melakukannya. Berikut ini Review, Translator Note, cuplikan Chapter 1 dari The Rainbow Troops. Sekedar info, dari website penulis, Maryamah Karpov 2, buku yang masih termasuk dalam seri Laskar Pelangi, juga akan segera diterbitkan. Can’t wait..

2. Jonathan Strange and Mr. Norrell – Susanna Clarke
Jonathan Strange

Edisi terjemahan Indonesia dari novel ini disajikan dalam box set yang terdiri dari tiga buku. Masing-masing berwarna merah, hitam, dan kuning keemasan. Berlatar cerita sihir ala Inggris yang sudah diceritakan dengan menarik di Harry Potter, Bartimaeus Trilogy, dan Septimus Heap, buku ini mencoba menarik pembaca dengan genre yang sama.

Berikut sinopsisnya (dikutip dari Gramedia Shop)

Dua penyihir akan muncul di Inggris. Yang pertama akan takut padaku; yang kedua akan mendamba memandangku…

Tahun 1806, dan sudah berabad-abad sihir praktis lenyap dari Inggris. Namun ternyata masih tersisa satu penyihir: Mr Norrell yang penyendiri. Dengan bakatnya, Norrell menyentakkan seluruh penjuru negeri. Tetapi Norrell yang selalu hati-hati dan banyak menuntut lalu tertantang oleh kemunculan penyihir lain: pemuda brilian bernama Jonathan Strange. Dengan wajah tampan dan sifat pemberaninya, Strange merupakan antitesis Norrell. Maka dimulailah pertempuran berbahaya dan menakjubkan antara dua pria hebat ini, yang akan membawa mereka ke berbagai medan perang dan tempat-tempat yang mestinya tidak mereka masuki.

Edisi Bahasa Indonesia buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dalam satu box set berisi 3 buku seharga Rp.160.000

3. The Sorceress Bahasa Indonesia – Michael Scott
The Sorceress Buku ini merupakan buku ketiga dari The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel series. Walaupun sudah membaca versi Inggrisnya, aku tetap ingin membeli dan membaca edisi Indonesia-nya.

Di buku ketiga ini, cerita sudah berkembang pesat. Kisah si kembar semakin seru dengan dibumbui cerita dan makhluk-makhluk legenda yang akan membuat pembaca tercengang. Masih diceritakan dengan gaya thriller, Michael Scott mengajak pembaca berpetualang bersama Josh dan Sophie, si kembar dalam ramalan, untuk membangkitkan kekuatan sihir elemental mereka dan mencegah Elder kembali menguasai bumi.

Di buku ini, diperkenalkan banyak tokoh baru yang diambil dari mitologi dan sejarah seperti Palamedes (Ksatria Sarachen dalam legenda Arthur),  William Shakespeare (setiap kalimat dialognya dalam buku ini dibuat sepuitis mungkin oleh penulisnya), Billy the Kid (atau yang dikenal dengan Henry McCarthy, pria yang dipercaya membunuh 20 ras kulit putih termasuk Mexican dan Indian), Nereus (The Old Man of the Sea) dan Raja Gilgamesh (Raja Sumeria yang disini diceritakan sebagai guru Magic of Water dan manusia tertua di dunia yang bahkan mengenal Abraham the Mage, sang penulis Codex).

Versi Indonesia buku ini masih akan diterbitkan oleh Penerbit Matahati pada awal 2010 dengan penerjemah Muhammad Baihaqi.

4. Let Go – Windhy Puspitadewi
Let Go Novel ini adalah buku keempat Mbak Windhy Puspitadewi setelah Confeito, sHe, dan Incognito. Novel ini, seperti kata penulis di bagian Muchas Gracias, ditujukan bagi mereka yang masih bertanya-tanya tentang arti persahabatan, arti kehidupan, dan arti kehilangan. Covernya unik dan layoutnya menarik :) Jarang ada novel yang bisa bikin aku merinding, dan novel ini adalah salah satunya..

Berikut sinopsisnya:

Kau tahu apa artinya kehilangan? Yakinlah, kau tak akan pernah benar-benar tahu sampai kau sendiri mengalaminya.

Raka tidak pernah peduli pendapat orang lain, selama ia merasa benar, dia akan melakukannya. Hingga, suatu hari, mau tidak mau, ia harus berteman dengan Nathan, Nadya, dan Sarah. Tiga orang dengan sifat berbeda, yang terpaksa bersama untuk mengurus mading sekolah.

Nathan, si pintar yang selalu bersikap sinis. Nadya, ketua kelas yang tak pernah meminta bantuan orang lain, dan Sarah, cewek pemalu yang membuat Raka selalu ingin membantunya.

Lagi-lagi, Raka terjebak dalam urusan orang lain, yang membuatnya belajar banyak tentang sesuatu yang selama ini ia takuti, kehilangan.

5. The Lost Symbol Bahasa Indonesia – Dan Brown
The Lost SymbolDari tempointeraktif.com:
Novel ini mengisahkan konspirasi kelompok rahasia Freemasonry di pemerintahan Amerika Serikat.

Brown tetap menyajikan cerita tentang pakar simbol Robert Langdon dengan kisah yang cepat dan membuat pembaca sulit mengalihkan dari halaman buku. Novelnya juga kontroversial, seperti biasa.

“Da Vinci Code”, misalnya, mengungkap konspirasi yang memegang rahasia bahwa Yesus memiliki anak. “The Lost Symbol” bukan kekecualian. Novel ini mengungkap kelompok rahasia Freemasonry di pemerintahan Amerika Serikat.

Tidak heran, novel ini menggunakan ibu kota Amerika, Washington, sebagai lokasi cerita. Seperti “Da Vince Code”, Langdon akan membongkar rahasia Freemanson lewat jejak-jejak arsitektur di Washington.

Tentu saja, ada musuh dengan karakter kuat, hampir-hampir seperti karakter dalam komik. Dalam “Da Vinci Code” ada rahib albino yang menakutkan. Dalam “The Lost Symbol” tampil orang berotot bertato yang menyebut dirinya Mal’akh (dalam bahasa Ibrani berarti malaikat).

“The Lost Symbol” dibuka dengan adegan saat Mal’akh dilantik masuk posisi tinggi di Freemasonry. Kisah berpindah saat Langdon menumpang pesawat pribadi terbang ke Washington karena diundang berbicara dalam satu acara di gedung Capitol–gedung DPR/MPR-nya Amerika Serikat.

Saat sampai di Capitol itu para pembaca mulai menahan nafas. Undangan itu palsu. Ia diundang oleh temannya yang kaya raya dan anggota Freemasonry, Peter Solomon. Tapi Solomon malah ditemukan tewas dengan tangan ditato simbol Freemasonry dan menunjuk gambar George Washington dari 1865.

Washington–seperti sejumlah presiden Amerika seperti Benjamin Franklin, Teddy Roosevelt, Harry Truman, dan Gerald Ford–memang benar anggota Freemasonry. Latar belakang ini membuat bangunan di Washington banyak diwarnai kepercayaan Freemasonry.

Seperti novel Brown sebelumnya, Langdon akan ditemani perempuan cantik saat berpetualang. Dalam “The Lost Symbol”, perempuan itu adalah saudara Peter Solomon, Katherine Solomon.

Bersama Katherine, Langdon menghadapi Mal’akh yang memiliki motif mencari kuil Freemasonry yang tersembunyi. Kuil itu, menurut kepercayaannya, bisa membuatnya melakukan transformasi.

Read more…

Negeri 5 Menara

November 28, 2009 mulinnuha Tinggalkan komentar

Negeri 5 MenaraJudul: Negeri 5 Menara
Penulis: Ahmad Fuadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Agustus 2009, 432 halaman (Hore, aku dapat cetakan pertama!)
Genre: Fiksi yang diangkat dari kisah nyata
Star: 4.5 out of 5

Jujur, aku membeli buku ini awalnya gara-gara endorsemen dari tokoh-tokoh terkenal seperti Andy F. Noya (Host Kick Andy), Riri Riza (Sutradara), BJ Habibie, Ary Ginanjar (Penulis buku ESQ), Erbe Sentanu (Penulis buku Quantum Ikhlas, Zona Ikhlas), dan lain-lain. Covernya bagus, menampilkan 5 menara–Monumen Nasional (Monas) di Indonesia, Monumen Washington di Amerika, Bigben di Inggris, dan dua menara lagi yang belum aku ketahui. Dua faktor ini cukup membuktikan keseriusan penerbit dalam mengemas buku ini dan keyakinan penerbit untuk menjadikan buku ini sebagai andalan.

Judulnya unik, awalnya kukira ini buku fiksi fantasi tentang sebuah negeri dengan 5 menara. Ternyata aku salah, ini jenis buku fiksi yang dikembangkan dari kisah nyata. Toh, walaupun ini bukan buku fiksi fantasi–genre favoritku–aku tetap membelinya gara-gara review positif dan endorsemennya tadi.

Bagian prolog menceritakan tentang tokoh utama yang dihubungi teman lamanya via messenger yang kemudian mengingatkannya kembali pada masa lalunya, masa dimana ia masih berada di pondok. Mungkin benar juga tips menulis yang menyatakan bahwa kalimat-kalimat awal sangat menentukan bagaimana buku itu sampai akhir. Dan prolog buku ini dieksekusi dengan sangat menarik–You caught my attention, Mas Fuadi.

Novel ini menceritakan tentang Alif Fikri, seorang anak Minangkabau lulusan Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang ingin melanjutkan ke SMA untuk meraih cita-citanya namun “dipaksa” orangtuanya untuk menempuh jalur pendidikan Islam. Karena tidak ingin durhaka pada orangtuanya, Alif dengan berat hati memenuhi permintaan orangtuanya untuk melanjutkan ke pondok dengan syarat ia tidak mau “mondok” di Minang; ia ingin merantau ke tempat lain, dan atas informasi dari kerabatnya, Alif akhirnya memilih untuk melanjutkan studinya ke Pondok Madani (PM) di Ponorogo, Jawa Timur. Sampai disini, aku sudah dipikat oleh buku ini. Latar belakangnya mirip ceritaku dulu: lulusan MTs yang disuruh orangtuanya untuk melanjutkan ke pondok, tapi bedanya aku memilih jalan untuk melanjutkan ke SMA. Bapak, maafkan anakmu yang telah melanggar perintahmu ini huhuhu (lho kok malah curhat??). Aku menganggap Alif sebagai diriku yang lain, yang memenuhi perintah orangtuanya untuk mondok (ahhahaha, maksa!).

Setelah diterima di PM, Alif menemukan dunia pondok yang benar-benar baru baginya. Dengan selusinan aturan tak-tertulis yang harus-dipatuhi-dan-tidak-boleh-dilanggar, Alif harus benar-benar berusaha keras untuk menyesuaikan diri disana. Ia dan teman-temannya diharuskan menggunakan bahasa Inggris dan Arab sebagai bahasa sehari-hari dengan masa percobaan tiga bulan. Bagiku, penulis menggambarkan PM seperti Hogwarts lengkap dengan asrama, pengatur kedisiplinan, detensi, guru paling horor, kepala sekolah yang baik, dan Aula tempat berkumpul semua siswa (bedanya di buku ini, tempat itu adalah masjid pondok). Tentunya, tokoh-tokoh dan settingnya tidak sekompleks Harry Potter)

Berawal dari hukuman yang ia terima karena terlambat ke masjid, Alif menemukan sahabat-sahabat senasib yang kemudian dinamai Sahibul Manara–sahabat yang sering berkumpul di bawah menara masjid Pondok Madani sambil menunggu adzan Maghrib. Mereka adalah Said dari Surabaya, Raja dari Medan, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa. Bersama, mereka saling menasehati, saling berbagi mimpi, dan saling membantu satu sama lain. Topik utama dari buku ini berpusat pada kisah keenam sahabat ini berjuang menuntut ilmu dengan ikhlas di PM, berusaha menjadi orator yang baik, melatih bakat, dan berusaha mati-matian untuk bisa lulus dari PM. Cerita kemudian berlanjut dengan pengalaman-pengalaman khas santri pondok yang diselingi dengan kejutan-kejutan seru di dalamnya.

Buku ini sangat inspiratif, dengan petuah-petuah tersirat tentang keikhlasan belajar-mengajar, tentang keyakinan, dan tentang kekuatan mimpi. Penulis juga berhasil menyajikan image pondok bukan sebagai tempat pendidikan kolot, kuno, keras, melainkan sebagai tempat pendidikan yang mengarahkan siswanya untuk menjadi insan unggul baik dari sisi pendidikan agama maupun pendidikan non-agama seperti orasi, olahraga, bahasa, dll.

Aku sendiri paling suka kalimat-kalimat inspiratif dan menggugah di dalamnya, diantaranya: “Jangan pernah meremehkan mimpi walau setinggi apapun, sungguh Tuhan Maha Mendengar“, lalu kutipan kata-kata Imam Syafi’i, “Orang berilmu dan beradab tak akan diam di kampung halaman. Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, maka engkau akan menemukan pengganti dari kerabat dan sahabatmu. Bersakit-sakitnya, maka manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang“,  dan tentunya kalimat andalan buku ini, “Man jadda wajada“.

Ada juga bagian dimana Alif mengenang masa lalunya dengan ayahnya yang berhasil mengiris-ngiris hatiku (don’t be lebay, please!). Dan entah kenapa, bagian ending buku ini membuatku terharu padahal ceritanya (sebenarnya) tidak terlalu mengharukan. Mungkin benar kata Paul Sweeney, “You know you’ve read a good book when you turn the last page and feel as if you’ve lost a friend.

Tidak banyak yang bisa dikritik dari buku ini; pengemasannya keren dan ceritanya menarik. Mungkin yang agak mengganggu adalah beberapa kesalahan ketik atau kesalahan gramatikal di beberapa kalimat yang sebenarnya tidak mengganggu tapi membuatku–yang (sok) memperhatikan detail kalimat–sempat mengulang-ngulang kalimat itu untuk memikirkan koreksi kalimat yang benar :p

PS: Buku ini datang dikala aku benar-benar di ujung kemalasan yang amat sangat sungguh parah sekali dan buku ini berhasil membangkitkanku untuk bisa berpacu dan terus maju (halah!). Dan aku menyarankan buku ini buat temen-temen di kampus dan ternyata respons mereka positif semua, mulai dari Tirta yang paling males kalo diajak baca buku fiksi, Banon yang emang suka buku-buku kaya gini, Rio yang sukanya baca fiksi fantasi, Fahmi dan Hallaz yang asli Ponorogo, sampe Ike yang lulusan Pondok Gontor Putri (katanya ceritanya mirip keseharian mereka). Sekedar informasi, buku Negeri 5 Menara ini adalah buku pertama dari sebuah trilogi. Nggak sabar nunggu sekuelnya :)

The Magician and the Mystery Inside

April 16, 2009 mulinnuha 13 komentar

Wow, aku baru tahu postinganku yang berjudul “The Magician Bahasa Indonesia” jadi top post di blog ini dengan 215 views (sampai saat post ini ditulis) dan 10 komentar. Padahal isinya nggak penting” banget, cuma membahas tentang sedikit cerita The Magician, bahkan pembahasan tsb tidak bisa disebut review. Selain itu, wordpress juga mencatat bahwa top searches yang mengantarkan pengunjung ke blog ini adalah <”the magician” alchemist, novel alchemist versi indonesia, download alchemyst, ebook alchemyst, the alchemist by michael ebook indonesia download,  sinopsis dari buku the alchemist (the secrets of the immortal nicholas flamel,  novel alchemist versi indonesia,  “the magician” alchemist,  ebook gratis alchemist>. Maafkanlah aku karena kalian tertipu tag dari postingan tsb. Untuk itu, izinkalah saya untuk membuat review yang lebih “manusiawi” tentang The Magician, The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #2, mengingat saya sudah membeli edisi Indonesia-nya tanggal 13 Maret kemarin.
———————————————————————————————

Judul: The Magician, The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel
Penulis: Michael Scott
Penerjemah: Novia Stephani (FYI, The Alchemyst diterjemahkan oleh Berliani M. Nugrahani)
Ilustrator: Michael Wagner
Penerbit dan tahun terbit: Matahati, Maret 2009

Ketika Flamel, Scathach, Josh, dan Sophie masuk cermin yang merupakan gerbang ley di Ojai (ending The Alchemyst), mereka ter-transport ke Paris, kota masa muda Flamel. Mereka tepatnya berada di Katedral Notre-Dame. Kedatangan mereka di Paris disambut oleh manipulator Italia handal yang juga seorang immortal, Niccolo Machiaveli, yang membawa sepasukan polisi. Tidak kehilangan akal, Flamel meminta Sophie supaya menggunakan Magic of Air-nya untuk membuat brouillard–kabut–sehingga mereka bisa melarikan diri. Flamel kemudian menghubungi Witch of Endor di Ojai untuk meminta bantuan mengenai immortal yang memihak humani yang berada di Paris. Mereka dipertemukan dengan Comte de Saint Germain, seorang bintang rock dan alchemist yang dulunya adalah murid Flamel.

Machiavelli, yang telah gagal menangkap Flamel di Notre Dame, kemudian memburu Flamel di dekat Eiffel, tempat bertemunya Flamel dengan St. Germain. Terperangkap, Germain menggunakan auranya untuk memunculkan Ignis–api. Ia membuat semacam kembang api mengelilingi Eiffel seperti yang terjadi pada perayaan milenium di menara terkenal tsb untuk menarik massa.

Selanjutnya Flamel memisahkan diri dari rombongan untuk memecah perhatian para polisi Machiavelli. Karena kemampuannya yang telah melemah, Flamel berhasil tertangkap polisi suruhan Machiavelli. Terpojok, ia menggunakan salah satu ilmu alkemi yang ia miliki: transmutasi. Ia membuat mentransmutasi glukosa dan fruktosa untuk membuat gula dan menarik kawanan semut untuk menyerang para polisi tsb. Dan Flamel-pun lari menuju rumah lamanya.

Di Alcatraz, Perenelle sang Sorceress (kata Alchemyst, Magician, dan Sorceress dalam buku ini tidak diterjemahkan oleh Mbak Novia, karena kata-kata tersebut merujuk pada tokoh-tokoh utama dan menjadi judul di seri ini) ditawan dan dijaga oleh Sphinx, yang menyerap energi sihir manusia. Perenelle yang memiliki kemampuan melihat, bahkan berbicara kepada hantu, bertemu dengan hantu De Ayala, Sang Penemu Alcatraz. Atas permintaan Perenelle, De Ayala menakut-nakuti Sphinx yang memungkinkan Perenelle untuk kabur dan mengisi auranya. Namun, ketika hendak keluar dari Alcatraz, Perenelle mendapati berbagai macam makhluk menyeramkan terpenjara di Alcatraz. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan, “Apakah yang sedang direncanakan Dee?”

Josh, Sophie, dan Scathach dibawa St. Germain ke rumahnya yang ada di kawasan Champs-Elysees. Di sana Scathach dikejutkan dengan kehadiran muridnya dahulu, Joan of Arc, yang juga merupakan istri St. Germain. Di sisi lain, Flamel pulang ke rumahnya untuk mengambil pedang Clarent–kembaran Excalibur yang dimiliki Dee–dan kemudian kembali ke rumah Germain melalui penanda yang diberikan Germain. Sophie-pun belajar Magic of Fire dari St. Germain, sedangkan Josh belajar menggunakan pedang Clarent, yang diberikan oleh Flamel, dengan diajar oleh Joan of Arc. Selain itu, Flamel menyerahkan 2 lembar Codex yang terakhir kepada Josh.

Machiavelli dan Dee (yang telah datang dari Ojai), setelah gagal menangkap Flamel dkk, kemudian berencana menyerang rumah St. Germain. Namun Machiavelli masih punya satu rintangan: selama Scathach masih bersama Flamel dan si Kembar, mereka akan nyaris mustahil menangkap si Kembar. Maka, Machiavelli mendatangkan Valkyrie/Disir (dan juga makhluk komodo raksasa bernama Nidhogg) untuk menangkap Scathach.

Dan aksi kejar-kejaran pun terjadi, Disir merusak rumah St. Germain, Nidhogg berhasil menangkap Scathach, Josh berusaha menolong Scatty, Nidhogg membatu akibat sabetan Clarent, Dee dan Machiavelli berhasil menangkap Josh, Sophie dan Joan berusaha menolong Josh, dan akhirnya Dee membawa Josh ke katakombe Paris untuk dibangkitkan oleh Mars Ultor, Sang Dewa Perang, namun dengan konsekuensi yang harus ditanggungnya…

Belum lagi ditambah adanya homunculi dan tulpa (makhluk dari benda mati yang digerakkan sehingga menyerupai makhluk hidup dengan ilmu Necromancy), kehadiran Morrigan di Alcatraz untuk membunuh Perenelle, keberadaan Tetua Laba-laba di Alcatraz yang secara tidak sengaja ditemui Perenelle, kehadiran Dagon yang ingin balas dendam pada Scathach dengan menenggelamkannya di Sungai dan masih banyak lagi cerita unik lainnya, tentunya akan menambah seru cerita ini. Thriller sihir dan mitologi ini akan membuat para pembaca penasaran sampai akhir cerita dan ingin tahu lanjutannya lagi, lagi, dan lagi…

***

Bagi yang sudah membaca bukunya, silakan baca spoiler di bawah ini… Bagi yang belum it’s up to you, nggak ditanggung ya kalo kecewa… Read more…

Nonton Bareng Le Plachard di UPT Bahasa

Le Placard DVD Cover

Le Placard DVD Cover

Okeh, ini pertama kalinya aku merepiu pilem. Bukan karena apa-apa sih, karena lagi pengen aja… hehehe

Ceritanya gini, hari ini kan seharusnya aku masuk kursus bahasa Prancis untuk pertama kali (hore…), tapi karena yang datang cuma 5  (of 20 people), jadi acaranya tadi kenalan sama guru (atau terserah lah istilahnya apa. Dosen? Tentor?)  yaitu Pak Wawan.

Kebetulan, hari ini di UPT Bahasa ada pemutaran film Prancis yang rutin diadakan disana. Jadilah kita nonton bareng film…

Le Placard (atau dalam bahasa Inggris = The Closet) adalah film Prancis yang dirilis tahun 2001 garapan Francis Veber dan Patrice Ledoux (ampun deh, orang Prancis namanya susah banget diucapin). Kata host acara nonton bareng tadi (yang nge-host-nya pake bahasa Prancis yang nggak terlalu lancar banget), Le Placard dalam Bahasa Indonesia berarti Poster atau Pengumuman.

Film komedi ini mengisahkan tentang Francois Pignon (dieja Pinyong), seorang duda yang hidupnya biasa-biasa saja. Ia kemudian dipecat dari kantornya karena dianggap tidak berguna. Ia hendak melakukan bunuh diri karena frustasi, namun ia dicegah oleh tetangganya, Jean-Pierre Belone, seorang mantan penasehat perusahaan, dengan menjanjikannya cara supaya ia tidak dipecat.

Ia menyarankan Pignon untuk berpura-pura menjadi gay (owh….). Read more…

Categories: Blog, Review

The Mysterious Benedict Society dan Kode Rahasia di Balik Cover Bukunya

Maret 10, 2009 mulinnuha 2 komentar

Kali ini aku mau mereview tentang buku The Mysterious Benedict Society karya Trenton Lee Stewart yang diterjemahkan oleh Mbak Maria M. Lubis (penerjemahnya Deeper, Taj, The Black Magician Trilogy, dll) dan diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit Matahati.

Persekutuan Misterius Benedict (Buku 1)

Persekutuan Misterius Benedict (Buku 1)

Judul: Persekutuan Misterius Benedict
Pengarang: Trenton Lee Stewart
Penerjemah: Maria M. Lubis
Editor: Nadya
Illustrator: Ella Elviana
Penerbit: Matahati

Kutipan dari sampul belakangnya:

“Awalnya, ada sebuah iklan suratkabar yang berisi:

APAKAH KAU SEORANG ANAK BERBAKAT YANG MENCARI KESEMPATAN ISTIMEWA?

Reynie, Sticky, Kate, dan Constance merespons iklan misterius tersebut. Setelah lulus dari serangkaian tes yang menguras otak, mereka diminta untuk berpartisipasi dalam sebuah misi berbahaya yang hanya bisa diselesaikan oleh anak-anak paling cerdas dan paling kreatif. Meskipun kepribadian masing-masing anak sangat berbeda, mereka memiliki tiga kesamaan. Mereka semua sangat berbakat. Mereka semua sangat jujur. Dan mereka semua adalah yatim piatu.

Maka terbentuklah Persekutuan Misterius Benedict.

Mengikuti tradisi kisah klasik yang baik, buku ini menampilkan keingintahuan, imajinasi, dan kreativitas anak-anak dalam menyelesaikan masalah. Bertemakan kesepian, kebaikan versus kejahatan, dan kekuatan persahabatan, Trenton Lee Stewart membawa para pembaca ke dalam petualangan menakjubkan yang mendorong teman, keluarga, dan musuh untuk diuji.

APAKAH KAU SIAP MENERIMA TANTANGAN?”
Read more…

Categories: Review

Deret Fibonacci dan The Da Vinci Code

Januari 9, 2009 mulinnuha Tinggalkan komentar

 

Anagram Fibonacci

Anagram Fibonacci

 

 

 

 

 

 

 

13-3-2-21-1-1-8-5
O, Draconian devil!
Oh, lame saint!

Bagi yang pernah baca The Da Vinci Code, pasti tahu kalimat di atas. Yap, itu merupakan anagram yang ditinggalkan oleh Jacques Sauniere di lantai Museum Louvre untuk memberi klu tentang Cawan Suci kepada Sophie Neveu dan Robert Langdon.

Kalimat di atas merupakan anagram dari

1-1-2-3-5-13-21
Leonardo Da Vinci
The Mona Lisa

Oke, kita nggak akan bahas tentang novel The Da Vinci Code lebih jauh, karena fokus kita adalah membahas tentang deret Fibonacci. Kalau mau tahu tentang The Da Vinci Code, baca aja filmnya atau nonton aja novelnya :-)

Kalau kita perhatikan baris pertama dari anagram di atas memiliki pola khusus. Deret tersebut disebut sbg deret Fibonacci. (Aku pertama kali tahu tentang deret ini dari guru matematika MTs-ku, Pak Yoko, waktu kelas 3 MTs).

FYI, deret Fibonacci adalah deret yang suku-sukunya didapat dari penjumlahan  da suku sebelumnya, dengan suku ke-0=0, dan suku ke-1=1. Jadi, deret Fibonacci akan mengikuti pola 1 1 2 3 5 8 13 21 34 55 dst. Nama Fibonacci diambil dari nama matematikawan abad 13 yaitu Leonardo of Pisa atau Leonardo Fibonacci.

Deret Fibonacci merupakan deret yang unik karena: Read more…

Categories: Review, Share Tag:,

The Magician Bahasa Indonesia

Januari 8, 2009 mulinnuha 13 komentar
The Magician, The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel

The Magician, The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel

Melanjutkan review The Alchemyst, sekarang aku akan mereview buku kedua dari The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel series: The Magician. Buku terbitan Delacorte Press, Random House Juli 2008 ini rencananya akan diterbitkan versi Indonesianya pada awal tahun 2009 oleh penerbit yang sama dengan penerbit yang menerbitkan ‘kakak’nya (baca: The Alchemyst) yaitu Penerbit Matahati. Sayangnya, penerjemah buku ke-2 ini tidak sama dengan buku pertama (Berliani Nugrahani) karena masalah perbedaan jadwal.

Judul utama dari setiap buku dalam seri ini merujuk pada salah satu tokoh dalam cerita. Buku pertama (The Alchemyst) merujuk pada Nicholas Flamel sedangkan The Magician disini merujuk pada Dr. John Dee, karena di dalam cerita, pengarang sering menyebut Dee sebagai the magician.
Seperti buku pertama, cerita ini diawali dengan catatan di Buku Harian (Day Booke) Nicholas Flamel tentang dirinya yang mulai menua dan melemah karena Buku Abraham sang Magus yang memuat resep ramuan keabadian telah dirampas oleh John Dee.
Read more…

Categories: Review Tag:, ,