RSS

[Review] Negeri 5 Menara

28 Nov

Negeri 5 MenaraJudul: Negeri 5 Menara
Penulis: Ahmad Fuadi
Editor: Mirna Yulistianti
Korektor: Danya Dewanti Fuadi
Ilustrator Cover: Slamet Mangindaan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I: Agustus 2009, 432 halaman
Genre: Fiksi

Jujur, aku membeli buku ini awalnya gara-gara endorsemen dari tokoh-tokoh terkenal seperti Andy F. Noya (Host Kick Andy), Riri Riza (Sutradara), BJ Habibie, Ary Ginanjar (Penulis buku ESQ), Erbe Sentanu (Penulis buku Quantum Ikhlas, Zona Ikhlas), dan lain-lain. Covernya bagus, menampilkan 5 menara–Monumen Nasional (Monas) di Indonesia, Monumen Washington di Amerika, Bigben di Inggris, dan dua menara lagi yang belum aku ketahui. Dua faktor ini cukup membuktikan keseriusan penerbit dalam mengemas buku ini dan keyakinan penerbit untuk menjadikan buku ini sebagai andalan.

Judulnya unik, awalnya kukira ini buku fiksi fantasi tentang sebuah negeri dengan 5 menara. Ternyata aku salah, ini jenis buku fiksi yang dikembangkan dari kisah nyata. Toh, walaupun ini bukan buku fiksi fantasi–genre favoritku–aku tetap membelinya gara-gara review positif dan endorsemennya tadi.

Bagian prolog menceritakan tentang tokoh utama yang dihubungi teman lamanya via messenger yang kemudian mengingatkannya kembali pada masa lalunya, masa dimana ia masih berada di pondok. Mungkin benar juga tips menulis yang menyatakan bahwa kalimat-kalimat awal sangat menentukan bagaimana buku itu sampai akhir. Dan prolog buku ini dieksekusi dengan sangat menarik–You caught my attention, Mas Fuadi.

Novel ini menceritakan tentang Alif Fikri, seorang anak Minangkabau lulusan Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang ingin melanjutkan ke SMA untuk meraih cita-citanya namun “dipaksa” orangtuanya untuk menempuh jalur pendidikan Islam. Karena tidak ingin durhaka pada orangtuanya, Alif dengan berat hati memenuhi permintaan orangtuanya untuk melanjutkan ke pondok dengan syarat ia tidak mau “mondok” di Minang; ia ingin merantau ke tempat lain, dan atas informasi dari kerabatnya, Alif akhirnya memilih untuk melanjutkan studinya ke Pondok Madani (PM) di Ponorogo, Jawa Timur. Sampai disini, aku sudah dipikat oleh buku ini. Latar belakangnya mirip ceritaku dulu: lulusan MTs yang disuruh orangtuanya untuk melanjutkan ke pondok, tapi bedanya aku memilih jalan untuk melanjutkan ke SMA. Bapak, maafkan anakmu yang telah melanggar perintahmu ini huhuhu (lho kok malah curhat??). Aku menganggap Alif sebagai diriku yang lain, yang memenuhi perintah orangtuanya untuk mondok (ahhahaha, maksa!).

Setelah diterima di PM, Alif menemukan dunia pondok yang benar-benar baru baginya. Dengan selusinan aturan tak-tertulis yang harus-dipatuhi-dan-tidak-boleh-dilanggar, Alif harus benar-benar berusaha keras untuk menyesuaikan diri disana. Ia dan teman-temannya diharuskan menggunakan bahasa Inggris dan Arab sebagai bahasa sehari-hari dengan masa percobaan tiga bulan. Bagiku, penulis menggambarkan PM seperti Hogwarts lengkap dengan asrama, pengatur kedisiplinan, detensi, guru paling horor, kepala sekolah yang baik, dan Aula tempat berkumpul semua siswa (bedanya di buku ini, tempat itu adalah masjid pondok). Tentunya, tokoh-tokoh dan settingnya tidak sekompleks Harry Potter)

Berawal dari hukuman yang ia terima karena terlambat ke masjid, Alif menemukan sahabat-sahabat senasib yang kemudian dinamai Sahibul Manara–sahabat yang sering berkumpul di bawah menara masjid Pondok Madani sambil menunggu adzan Maghrib. Mereka adalah Said dari Surabaya, Raja dari Medan, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa. Bersama, mereka saling menasehati, saling berbagi mimpi, dan saling membantu satu sama lain. Topik utama dari buku ini berpusat pada kisah keenam sahabat ini berjuang menuntut ilmu dengan ikhlas di PM, berusaha menjadi orator yang baik, melatih bakat, dan berusaha mati-matian untuk bisa lulus dari PM. Cerita kemudian berlanjut dengan pengalaman-pengalaman khas santri pondok yang diselingi dengan kejutan-kejutan seru di dalamnya.

Buku ini sangat inspiratif, dengan petuah-petuah tersirat tentang keikhlasan belajar-mengajar, tentang keyakinan, dan tentang kekuatan mimpi. Penulis juga berhasil menyajikan image pondok bukan sebagai tempat pendidikan kolot, kuno, keras, melainkan sebagai tempat pendidikan yang mengarahkan siswanya untuk menjadi insan unggul baik dari sisi pendidikan agama maupun pendidikan non-agama seperti orasi, olahraga, bahasa, dll.

Aku sendiri paling suka kalimat-kalimat inspiratif dan menggugah di dalamnya, diantaranya: “Jangan pernah meremehkan mimpi walau setinggi apapun, sungguh Tuhan Maha Mendengar“, lalu kutipan kata-kata Imam Syafi’i, “Orang berilmu dan beradab tak akan diam di kampung halaman. Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, maka engkau akan menemukan pengganti dari kerabat dan sahabatmu. Bersakit-sakitnya, maka manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang“,  dan tentunya kalimat andalan buku ini, “Man jadda wajada“.

Ada juga bagian dimana Alif mengenang masa lalunya dengan ayahnya yang berhasil mengiris-ngiris hati (lebay). Dan entah kenapa, bagian ending buku ini membuatku terharu padahal ceritanya (sebenarnya) tidak terlalu mengharukan. Mungkin benar kata Paul Sweeney, “You know you’ve read a good book when you turn the last page and feel as if you’ve lost a friend.

Tidak banyak yang bisa dikritik dari buku ini; pengemasannya keren dan ceritanya menarik. Mungkin yang agak mengganggu adalah beberapa kesalahan ketik atau kesalahan gramatikal di beberapa kalimat yang sebenarnya tidak mengganggu tapi membuatku–yang (sok) memperhatikan detail kalimat–sempat mengulang-ngulang kalimat itu untuk memikirkan koreksi kalimat yang benar :p

PS: Buku ini datang dikala aku benar-benar di ujung kemalasan yang amat sangat sungguh parah sekali dan buku ini berhasil membangkitkanku untuk bisa berpacu dan terus maju (halah!). Sekedar informasi, buku Negeri 5 Menara ini adalah buku pertama dari sebuah trilogi. Nggak sabar nunggu sekuelnya🙂

 
Leave a comment

Posted by on November 28, 2009 in Review

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: