RSS

[Review] Ranah 3 Warna

23 Jan

Judul: Ranah 3 Warna
Penulis: Ahmad Fuadi
Editor: Danya Dewanti Fuadi & Mirna Yulistianti
Korektor:  Novera Kresnawati & Meilia Kusumadewi
Ilustrator cover: Slamet Mangindaan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I:  23 Januari 2011, 473 halaman
Genre: Fiksi

SINOPSIS
Alif baru saja tamat dari Pondok Madani. Dia bahkan sudah bisa bermimpi dalam bahasa Arab dan Inggris. Impiannya? Tinggi betul. Ingin belajar teknologi tinggi di Bandung seperti Habibie, lalu merantau sampai ke Amerika.

Dengan semangat menggelegak dia pulang ke Maninjau dan tak sabar ingin segera kuliah. Namun kawan karibnya, Randai, meragukan dia mampu lulus UMPTN. Lalu dia sadar, ada satu hal penting yang dia tidak punya. Ijazah SMA. Bagaimana mungkin mengejar semua cita-cita tinggi tadi tanpa ijazah?

Terinspirasi semangat tim dinamit Denmark, dia mendobrak rintangan berat. Baru saja dia bisa tersenyum, badai masalah menggempurnya silih berganti tanpa ampun. Alif letih dan mulai bertanya-tanya: “Sampai kapan aku harus teguh bersabar menghadapi semua cobaan hidup ini?” Hampir saja dia menyerah.

Rupanya “mantra” man jadda wajada saja tidak cukup sakti dalam memenangkan hidup. Alif teringat “mantra” kedua yang diajarkan di Pondok Madani: man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Berbekal kedua mantra itu dia songsong badai hidup satu persatu. Bisakah dia memenangkan semua impiannya?

Ke mana nasib membawa Alif? Apa saja 3 ranah berbeda warna itu? Siapakah Raisa? Bagaimana persaingannya dengan Randai? Apa kabar Sahibul Menara? Kenapa sampai muncul Obelix, orang Indian dan Michael Jordan dan Kesatria Berpantun? Apa hadiah Tuhan buat sebuah kesabaran yang kukuh?

Ranah 3 Warna adalah hikayat bagaimana impian tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup terus digelung nestapa.

Review

Buku ini termasuk buku yang ditunggu-tunggu para pembaca di Indonesia. Popularitas buku pertama, Negeri 5 Menara, begitu besar hingga buku tersebut cetak ulang berkali-kali, masuk nominasi Khatulistiwa Awards, dan akan segera dibuat versi layar lebarnya. Untuk buku kedua dari seri ini, saya beruntung bisa mendapatkan edisi pertama dengan bonus tanda tangan penulisnya plus sebuah tas karena saya preorder di gramediaonline.com

Cover buku buatan Slamet Mangindaan ini sangat keren menurut saya. Di bagian cover depan terdapat gambar sepatu hitam yang dalam cerita ini disebut sebagai Si Hitam, sepatu khusus pemberian Ayah Alif untuk kuliah. Selain itu cover depan didominasi oleh gambar rumput, daun maple, dan pasir yang melambangkan ranah tiga warna itu sendiri. Sebagai bonus, penerbit memberikan sebuah pembatas buku unik berbentuk daun maple berwarna orange.

Cerita diawali dari kisah Alif yang baru saja lulus dari Pondok Madani dan ingin melanjutkan cita-citanya untuk kuliah. Karena ia tidak memiliki ijazah SMA, ia harus ikut ujian persamaan SMA untuk bisa mendaftar tes UMPTN. Hal ini tentunya tidak mudah baginya mengingat ia lulusan pondok dan hanya mendapat materi pendidikan umum dengan porsi tidak terlalu banyak. Hal ini diperparah dengan cibiran dan pandangan sebelah mata orang-orang yang meragukan lulusan pondok seperti Alif untuk bisa lulus UMPTN, ia sempat patah semangat. Ia kemudian menemukan kembali semangatnya setelah menonton pertandingan Piala Eropa 1992 dan menyaksikan bahwa tim Denmark berhasil memenangkan kompetisi tersebut walaupun awalnya tim tersebut dianggap sebagai anak bawang, underdog, dan diremehkan oleh sebagian besar orang. Walaupun akhirnya Alif berhasil lulus ujian persamaan SMA, ia berpikir realistis bahwa nilai IPA-nya pas-pasan. Ia mengurungkan niatnya kuliah di jurusan teknik di ITB dan menjalankan Plan B-nya untuk kuliah di jurusan IPS: Hubungan Internasional Universitas Padjajaran.

Setengah bagian awal buku ini berkisah tentang kuliah Alif di Unpad. Mulai dia masuk, menghadapi pengkaderan dari senior, belajar menulis laporan jurnalistik kepada guru yang super disiplin, bekerja sambilan untuk membiayai kuliah, sampai ketika ia harus bersitegang dengan Randai (teman satu kampungnya yang juga satu kos dengannya). Di buku ini, Alif juga mulai merasakan cinta kepada seorang gadis bernama Raisa, seorang gadis yang kuliah satu kampus dengannya. Di novel setebal 473 halaman ini, penulis juga ingin menyampaikan mantra kedua yang ia pelajari di Pondok Madani: Man Shabara Zhafira (siapa yang bersabar akan beruntung).

Paruh kedua buku ini bercerita tentang usaha Alif untuk meraih beasiswa pertukaran pelajar ke Benua Amerika dan akhirnya diterima. Selanjutnya, buku ini berkisah tentang perjalanan Alif ke Kanada lewat Jordania dan kehidupan Alif selama di Kanada, termasuk pengalamannya menjadi jurnalis, belajar bahasa Prancis, dan usahanya untuk mengungkapkan perasaannya kepada Raisa.

Menurut penulisnya, mozaik Ranah 3 Warna terdiri dari lima bagian:

  1. Persahabatan: persahabatan Alif dengan Randai dan kawan-kawan barunya sesama penerima beasiswa pertukaran pelajar.
  2. Nasionalisme: suasana nasionalisme terasa kental sekali di buku ini terutama ketika Alif berada di Kanada. Mereka bahkan sempat memperingati Hari Pahlawan dengan mengadakan upacara di puncak Mont Laura.
  3. Bahasa Asing: Alif, selama di Kanada, belajar Bahasa Prancis yang menjadi bahasa sehari-hari di sana. Ia selalu teringat pelajaran di pondoknya dulu bahwa bahasa bisa mempermudah kita untuk mengakses ilmu-ilmu dari berbagai belahan dunia.
  4. Kekuatan Menulis: di buku ini, Alif sempat belajar bagaimana menulis laporan jurnalistik kepada seseorang bernama Bang Togar. Tidak hanya belajar menulis, ia juga mendapat banyak pelajaran lain dari gurunya yang super disiplin itu.
  5. Pujaan Hati: ya, di Ranah 3 Warna Alif mulai mengenal cinta. Walaupun kisah cinta tidak mengambil porsi dominan di buku ini, tapi lucu juga mengetahui bagaimana Alif berusaha merebut perhatian gadis pujaannya.

Well, buku ini bagus sekali. Banyak pesan-pesan yang diselipkan dari kisah Alif, baik di kala suka maupun duka. Tapi entah kenapa, saya agak merasa bosan setelah membaca separuh awal buku ini. Mungkin karena banyak cerita yang ingin penulis sampaikan sehingga ceritanya tidak sefokus Negeri 5 Menara. Atau mungkin saya harus setuju pendapat Luz Balthasaar di review Icylandar bahwa buku ini termasuk Buku S. Buku Sayang. Ceritanya bagus, tapi sayang saya sudah membaca kisah yang agak mirip kisah ini di Tetralogi Laskar Pelangi. Atau bisa juga saya bosan di tengah-tengah buku karena saya-nya saja yang memang sedang jenuh membaca :p. Dan akhirnya saya memberi buku ini 4 bintang di Goodreads (sebenarnya 3,5 sih, tapi karena di Goodreads tidak ada setengah bintang, jadinya saya bulatin jadi 4 karena cover dan pembatas bukunya yang keren :-D)

Meskipun demikian, saya merekomendasikan buku ini bagi siapa saja yang sedang mencari bacaan inspiratif, terutama bagi yang masih berstatus mahasiswa seperti saya🙂

 
2 Comments

Posted by on January 23, 2011 in Review

 

Tags: , , ,

2 responses to “[Review] Ranah 3 Warna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: