RSS

Talkshow “Selimut Debu” dan “Garis Batas” di C2O Library

15 May

Hari ini, 15 Mei 2011, saya berkesempatan untuk ikut event Catatan Sang Petualang dari Asia Tengah, sebuah talkshow yang membahas tentang buku Selimut Debu dan Garis Batas karangan Agustinus Wibowo. Acara ini diadakan di C2O Library oleh Goodreads Indonesia Regional Surabaya.

Acara yang dihadiri langsung oleh si penulis, Agustinus Wibowo, ini dibagi menjadi beberapa sesi dan diselingi dengan video slideshow foto-foto yang penulis peroleh selama bertualang ke Afghanistan dan negara-negara berakhiran -stan lainnya.

Di acara yang dihadiri sekitar 50-an orang ini, Mas Agustinus bercerita bagaimana dia bisa sampai mengembara ke Afghanistan. Setelah melihat berita tentang Taliban yang akan segera menghancurkan Patung Buddha yang terletak di Afghanistan, dia bermimpi ingin menjelajahi negeri mimpi tersebut–negeri yang masih tertutup dari dunia luar dan seringnya hanya diberitakan kondisinya ketika perang. Ia juga bercerita bahwa ia ingin berkeliling dunia dan ingin belajar kehidupan penduduk negara yang ia kunjungi. Dan menurutnya, ia bisa mencapai tujuannya itu apabila ia melakukan perjalanannya lewat darat dan berbaur dengan penduduk, bukan hanya menikmati tempat wisata dan “eksotisme” negara yang ia kunjungi.

**

Pada paruh pertama sesi talkshow, Mas Agustinus menceritakan pengalamannya selama di Afghanistan–yang juga ia ceritakan di buku Selimut Debu. Ia menuturkan bahwa di Afghanistan, bom sudah menjadi hal biasa. Bahkan terasa aneh jika tidak ada bom yg meledak dalam satu hari. Sampai-sampai ada joke yang menyatakan bahwa harga kepala kambing lebih mahal daripada kepala manusia. Mas Agustinus juga menceritakan bahwa di beberapa daerah, peradabannya memang masih tertutup; seperti kembali ke lima puluh tahun silam.

Secara umum, rakyat Afghan sangat menghormati tamu. Bahkan ada pepatah, “Satu cangkir teh pertama adalah untuk persahabatan dan satu cangkir kedua adalah untuk persaudaraan.”

Laki-laki Afghanistan juga menghargai maskulinitas. Terbukti dengan banyaknya gym di daerah itu–walaupun dengan peralatan seadanya. Dan di sana tiap tahunnya diadakan kontes Mister Afghanistan–kontes yang digemari selain kontes berkuda nasional Buzkashi. Walaupun menggemari body building, banyak lelaki Afghanistan yang ternyata juga gemar menonton drama–semacam sinetron Indonesia lah.

Di negeri yang sedang konflik tersebut, ada daerah terpencil bernama Pamir. Dataran tinggi yang berada di perbatasan Afghanistan dan Tajikistan ini dijuluki sebagai Atap Dunia. Daerah tersebut begitu dinginnya sehingga mestinya hanya ditinggali pada musim panas–bahkan pada musim panas pun suhunya masih tetap dingin. Oleh karena dinginnya daerah tersebut, perempuan kesulitan hidup di sana dan mayoritas penduduknya adalah laki-laki. Akibatnya, “harga” untuk menikahi perempuan di sana sangat mahal yaitu mencapai seratus ekor domba (sistem jual beli di sana masih memakai sistem barter).

**

Pada paruh kedua sesi talkshow, Mas Agustinus menceritakan tentang Garis Batas. Garis batas adalah kodrat manusia yang kadang digunakan untuk mengkotak-kotakkan manusia tersebut. Secara fisik, sungai Amu Darya adalah garis batas teritori Afghanistan dan Tajikistan. Dan walaupun hanya terpisah sungai, kedua negeri tersebut memiliki perbedaan yang cukup jauh. Bahkan kadang rakyat Afghanistan bermimpi untuk bisa tinggal di negara tetangganya tersebut.

Mas Agustinus juga menceritakan negara-negara dengan nama berakhiran -stan lainnya–Kazakhstan, Uzbekistan, Tajikistan, Turkmenistan, Kirgizstan–yang merupakan pecahan Uni Soviet. Negara-negara tersebut aslinya adalah satu rumpun, namun dikotak-kotakkan dan dipisahkan sesuai sukunya: suku Afghan dibuatkan negara Afghanistan, suku Tajik dibuatkan negara Tajikistan, dsb, dan dipisahkan oleh garis batas negara.

Walaupun awalnya satu rumpun dan merupakan bagian Uni Soviet, negara-negara tersebut memiliki perbedaan yang cukup kentara, misalnya kekayaan, pemerintahan, dan lain-lain. Dan sering, rakyat-rakyat miskin di negara-negara tersebut bernostalgia ketika mereka masih bersatu dengan Uni Soviet. Dan memang, yang diingat dalam nostalgia adalah hal-hal yang indah saja.

**

Pada acara talkshow ini, pengunjung tampak antusias bertanya. Banyak yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan di negeri-negeri Asia Tengah tersebut, kendala yang Mas Agustinus hadapi, bagaimana ia belajar bahasa, dan sebagainya.

Acara talkshow ini ditutup dengan sesi kuis berhadiah buku dan sesi foto plus tanda tangan.

Foto-foto acaranya bisa dilihat di Flickr Goodreads Indonesia. Beberapa di antaranya saya link di bawah ini.

Suasana Talkshow

Sesi Pemutaran Slideshow Foto

Sesi Foto Bareng

Sesi Booksigning (1)

Sesi Booksigning (2)

Dan saya dapat tandatangan (halah!)

Setelah melihat talkshow, mendengar ceritanya langsung, dan melihat slideshow foto di negara-negara Asia Tengah, saya jadi termotivasi untuk menuntaskan membaca buku Selimut Debu (yang sebenarnya sudah saya beli sejak Januari 2010 tapi belum selesai-selesai karena godaan buku-buku fantasi :-D). Dan entah kenapa obsesi jaman SMA saya untuk menjadi jurnalis (sehingga bisa keliling dunia) muncul lagi *plak*

Special thanks saya ucapkan untuk Goodreads Indonesia, Rhea Siwi (Koordinator Goodreads Indonesia Regional Surabaya) dan seluruh panitia yang mengadakan acara keren ini. Juga untuk Banon, Udhe, dan adiknya Udhe yang menemani saya ke acara ini sehingga saya tidak nyasar :-p

CATATAN: karena saya belum selesai menamatkan Selimut Debu, mungkin beberapa potongan cerita hasil review di atas ada yang salah. Monggo kalau ada yang mau mengoreksinya.

***

UPDATE 1: 16 Mei 2011

Barusan saya baca Jawa Pos edisi 16 Maret 2011 dan ada artikel tentang Agustinus Wibowo (coincidence?). Artikel lengkapnya bisa dibaca di sini. Ada dua cerita menarik mengenai pengalaman Mas Agustinus di situ:

1. Jika dalam keadaan sulit, misalnya ketika “dirampok” supir taksi, jadilah orang muslim. Salah satu caranya adalah melafalkan doa keras-keras.

Supir itu lantas memalak Agus USD 20. Agus ingat kata-kata salah seorang staf KBRI yang dia temui: jika dalam keadaan sulit, jadilah orang muslim. “Saya langsung baca keras-keras doa yang saya hafal saat kecil. Seperti robbana aatina fiddunya hasanah,” katanya. Supir tersebut langsung berteriak, “Iya, iya, kamu bayar saya dulu, nanti saya akan kembali jadi muslim.”

2. Kalau kamu ditawar homo, mintalah harga lebih tinggi.

Pernah, seorang lelaki Afghan meminta Agus menginap di rumahnya dengan bayaran USD 3. Agus menolak. “Saya tidak semurah itu. Harga saya USD 4,5. Eh, dia pergi. Katanya kemahalan,” kata Agus, lantas terbahak.

UPDATE 2: 17 Mei 2011

  • Laporan Pandangan Mata (LPM) dari Goodreads Indonesia Regional Surabaya (ditulis oleh Nabila Azzahra) tentang acara ini bisa dibaca di sini.
  • Reportase talkshow dari C2O Library dapat dibaca di sini.

UPDATE 3: 24 Mei 2011

Gramedia Pustaka Utama baru saja merilis video trailer buku Garis Batas (yang juga diputar di talkshow ini)

 
1 Comment

Posted by on May 15, 2011 in Blog

 

One response to “Talkshow “Selimut Debu” dan “Garis Batas” di C2O Library

  1. mi syuhada'

    May 22, 2011 at 11:43 am

    ternyata indonesia penuh dengan generasi muda yang inspiratif. salut bgt buat mas agus

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: