RSS

[Review] 99 Cahaya di Langit Eropa – Hanum S. Rais

13 Sep


Judul: 99 Cahaya di Langit Eropa, Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa
Penulis: Hanum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan I, Juli 2011, 424 Halaman
Genre: Travel, Indonesian Literature

Awalnya, waktu buku ini dijadikan hadiah kuis di twitter @Gramedia, saya nggak terlalu tertarik sama buku ini. Alasannya karena sepintas lihat, judul dan cover buku ini terlihat sederhana (yes, I do judge a book by its cover!). Tapi begitu baca review-review di Goodreads, saya jadi kepingin baca. Alasan lainnya karena dulu saya sempat tertarik pada Sejarah Kebudayaan Islam di bab-bab persebaran Islam ke seluruh dunia (tapi terlalu malas untuk googling dan meriset lebih lanjut :p). Dan ternyata isi buku ini jauh melampau ekspektasi awal.

Kalau ditanya apa agama mayoritas di Eropa, mungkin kebanyakan orang akan menjawab Kristen, Katolik, atau bahkan mungkin ateisme. Dan niscaya jarang atau bahkan tidak ada yang mengaitkan Eropa dengan Islam. Tapi nyatanya, Islam pernah berjaya di benua tersebut, dan bahkan menjadi penghubung Abad Kegelapan dengan Renaissance. Buku ini bercerita tentang perjalanan si penulis untuk menapaki jejak-jejak peninggalan kebudayaan Islam di benua Eropa.

Buku bergenre Novel Islami ini diawali dengan sebuah prolog, yang berisi tentang latar belakang penulis melakukan perjalanannya, dan sebuah overture (pengantar) berisi kisah usaha penaklukan Austria oleh pasukan Islam dari dinasti Ottoman/Turki Utsmani di bawah pimpinan Kara Mustafa Pasha, yang berujung pada kekalahan pasukan Ottoman. Overture ini menjadi semacam “benang merah” bagi cerita-cerita selanjutnya di buku ini.

Penulis membagi buku ini menjadi empat bagian; masing-masing bagian berisi kisah perjalanannya di empat daerah di Eropa di mana Islam pernah berjaya atau meninggalkan sisa-sisa kebudayaannya yaitu Wina di Austria, Paris di Prancis, Cordoba & Granada di Spanyol, dan Istanbul di Turki.

view of Hagia Sophia from the west side

Hagia Sophia - Image by jimforest via Flickr

Di setiap tempat yang dikunjungi, penulis menyisipkan sisipan sejarah kebudayaan Islam di tempat tersebut. Misalnya saja tentang bukit Kahlenberg yang menjadi tempat kekalahan pasukan Islam dalam Pertempuran Wina; tentang Axe Historique–garis imajiner di Paris yang dibuat Napoleon Bonaparte yang melintasi Arc de Triomphe du Carrousel, obelisk di Place de la Concorde, Arc de Triomphe de l’Étoile, dan Grande Arche de La Défense–yang katanya jika diteruskan ke arah tenggara akan sampai ke Ka’bah; tentang Mezquita-Cathedral Cordoba (masjid yang diubah menjadi katedral di Cordoba); dan masjid Hagia Sophia (gereja yang diubah menjadi masjid selama kekuasaan Turki Utsmani, dan kemudian diubah menjadi museum setelah Turki berubah menjadi republik).

Madonna and Child, main panel of a polyptych. ...

Virgin and the Child - Image via Wikipedia

Tidak hanya sejarah, kedua penulis buku ini juga menyoroti pengaruh kebudayaan Islam di Eropa. Contohnya saja kaligrafi Kufic yang tersemat pada tekstil bawaan orang Timur Tengah pasca Perang Salib. Konon, hijab yang dipakai Bunda Maria dalam lukisan Virgin and the Child karya Ugolino di Nerio yang dipajang di museum Louvre memuat tulisan Kufic Laa ilaha illallah. Kaligrafi Kufic ini juga muncul pada jubah raja Roger II of Sicily, raja yang memerintah Sisilia pada abad 12.

Kuliner yang terkenal di Eropa yang ada hubungannya dengan Islam juga dibahas di buku ini. Katanya, asal roti Croissant bukanlah dari Prancis, melainkan diciptakan di Wina untuk merayakan kekalahan pasukan Turki. Cappucino konon juga bukan berasal dari Italia, melainkan dari biji-biji kopi Turki yang tertinggal di medan perang Pertempuran Wina.

Melalui dialog dengan tokoh-tokoh yang ia temui, penulis juga menyisipkan pesan moral: bahwa membangun image Islam yang baik dengan senyum, mengajak diskusi orang yang menghina Islam, dan jalan-jalan damai lainnya, walaupun remeh dan memakan waktu lama, itu lebih baik ketimbang penyebaran agama dengan jalan-jalan kekerasan. Dan walaupun dialog-dialog di buku ini direkonstruksi ulang untuk memperkuat jalannya cerita, tidak ada kesan menggurui dalam dialog tersebut, menurut saya.

Untuk urusan layout dan kemasan menurut saya tidak ada masalah. Bahasanya enak dan tulisannya minim typo, hanya ada beberapa mistype dan ada beberapa istilah asing yang tidak ditulis italic. Yang agak aneh justru penggunaan left alignment alih-alih justified alignment pada paragrafnya, dan ditambah ukuran font yang besar membuat seolah paragraf-paragraf di dalamnya boros tempat. Tapi bukan berarti hal tersebut mengganggu kenyamanan membaca😀 (ini bikin review rewel amat sih!)

Verdict: saya ikhlas memberikan lima bintang untuk buku ini karena berhasil menyajikan sejarah dengan menarik dan tidak memusingkan (saya termasuk orang yang kesulitan memahami sejarah, btw), dan juga karena berhasil membuat saya ribet sendiri googling tentang objek dan sejarah-sejarah yang dibahas😀

 
7 Comments

Posted by on September 13, 2011 in Review

 

7 responses to “[Review] 99 Cahaya di Langit Eropa – Hanum S. Rais

  1. ari

    January 11, 2012 at 11:26 am

    buku ini sungguh memotifasi!!

     
  2. joanda kevin

    January 28, 2012 at 9:16 pm

    sekuel keduanya apa,mbaakk…..?? bukunya menarik bangetzz

     
    • ulinnuha

      January 29, 2012 at 4:37 pm

      kayaknya ini bukan buku berseri deh. kan endingnya udah jelas🙂

       
  3. Teguh

    February 10, 2012 at 2:16 pm

    petualangan yang menyenangkan…😛

     
  4. Ridwan

    November 6, 2013 at 5:27 am

    apakah dicantumkan juga bukti2 nya? atau kita disuruh percaya saja? hijab Maria ada kufic timur tengah? Maria hidup sekitar tahun 0 Masehi, sedangkan islam muncul 650 M, kok bisa? oh lukisan? itu mah suka2 imajenasi pelukisnya, bisa aja dia tulis Made in China.

    yang saya takutkan ini jadi penyesatan umat, saya muslim, tapi saya gak suka dengan muslim2 bodoh lainnya yang asal ada berita yang nyerempet2 islam langsung bilang subahanallah tanpa tahu kebenarannya, karena ini termasuk musyrik!

     
    • ulinnuha

      November 6, 2013 at 5:07 pm

      penyesatan umat seperti apa ya maksudnya?

      kan yang dibahas di sini adalah bahwa kebudayaan islam juga pernah memengaruhi seni di Eropa, bahwa ada pelukis Eropa yang melukis Mary memakai hijab berkaligrafi Kufic, bukan bahwa Mary yang asli memakai hijab berkaligrafi Kufic.

      dan walaupun mengutip wikipedia itu tidak dianjurkan, tapi di dua artikel wikipedia di bawah ini dibahas bahwa memang pernah ada pengaruh kebudayaan Islam terhadap seni di Eropa:

      http://en.wikipedia.org/wiki/Pseudo-Kufic

      http://en.wikipedia.org/wiki/Islamic_influences_on_Christian_art

       
  5. abdullah

    November 6, 2013 at 5:30 am

    saya suka buku2 islamisasi seperti ini
    tapi klo ada buku2 kristenisasi, mari kita bakar
    kita sebagai islam kan harus menang melawan kafir
    hidup fpi!

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: