RSS

A Trip to Paris (van Java) – Part 1

22 Feb

Aku jenis orang yang jarang pergi-pergi kalau nggak bareng teman atau diajak teman. Ke mana-mana nggak berani sendirian. Dan di usiaku yang ke-21 ini, aku baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Bandung–atau yang dikenal dengan Paris pan Japa (err.. Paris van Java, maksudnya).

Jadi ceritanya tanggal 6-8 kemarin, para penerima Beasiswa S1 Semen Gresik dipertemukan kembali dalam acara Gathering. Tujuan Gathering adalah membangun rasa kekeluargaan dan persaudaraan di antara para penerima beasiswa. Gathering di Bandung ini adalah yang keempat setelah yang pertama dan kedua diadakan di Surabaya, dan yang ketiga diadakan di Semarang.

Untuk keberangkatannya, aku bareng anak-anak ITS dan Unair naik kereta. Itupun sebelum berangkat, harus ada adegan drama di mana koordinator yang pegang tiket nyaris telat. Yang nungguin di stasiun udah deg-degan duluan, “Waaaa, tiket tiga ratus dua puluh lima ribuku bakal melayang.” Untungnya sih sang koordinator berhasil datang sebelum keretanya berangkat, walaupun harus lari-lari dari depan stasiun pas keretanya sudah datang😀

Ini cerita lengkap kunjungan singkatku ke Bandung (yang merasa orang Bandung dan baca artikel ini, jangan bully aku ya kalau deskripsinya salah :-p)

[Tertipu Sopir]

Setelah dua belas jam perjalanan dengan kereta Turangga, akhirnya kami sampai di Bandung pada hari Senin pagi (06/02/2012). Dari stasiun ke tempat menginap, kami berencana naik taksi yang mangkal di depan stasiun. Karena di rombongan nggak ada yang benar-benar paham Bandung, kami mau aja naik taksi di depan stasiun. Kami membagi kelompok 3-4 orang untuk naik taksi. Aku kebetulan naik taksi yang paling belakang.

Sampai di Bandung, foto-foto dulu dong (Photo by Arif)

Begitu jalan, perasaan udah nggak enak. Kok argonya nggak nyala? Dan pas temenku tanya, sopirnya jawab, “Ikut (argo taksi) yang paling depan aja.” Yang tambah bikin nggak enak adalah, nama di ID Card sopir taksinya ditutupi pakai kertas gitu, padahal aku udah mau nyatet. Gelagat yang kurang menyenangkan.

Dan emang terbukti, dari Stasiun Bandung ke Hotel Amaris di daerah Cihampelas (kayaknya nggak jauh-jauh banget), kita kena biaya Rp 75.000. Kalau kata Google Maps sih, jaraknya sekitar 3-6 km. Padahal ongkos taksi dari ITS ke Stasiun Gubeng yang jaraknya 7 km cuma Rp 25.000. Dan pas kami tanya teman yang naik taksi paling depan, katanya argonya juga nggak dinyalakan. *double facepalm*

Soal sopir yang usil ini sebenarnya aku udah beberapa kali baca di twitter, tapi karena aku emang jarang naik taksi, jadinya ya nggak terlalu peduli. Moral of the story: 1) Jangan mau naik taksi abal-abal. 2) Dari twitter, kalau ada sopir taksi yang nggak mau menyalakan argo, pura-puralah menelepon ayah yang bekerja di kantor kepolisian atau saudara yang bekerja di bisnis perdagangan senjata.

[Main ke ITB]

Setelah berurusan dengan sopir iseng, kami masuk penginapan. Hari pertama belum ada agenda acara dari panitia. Dan kami bosan. Akhirnya sorenya beberapa anak cowok ITS plus satu anak Unair main ke ITB. Dari penginapan kami naik angkot. Alasan pertama karena lebih murah, alasan kedua karena masih agak trauma dengan sopir taksi iseng.

Dan ternyata kami juga kena keisengan sopir angkot.

Aslinya bukan iseng sih. Jadi kalau mau cepet ke ITB, kami mestinya nyari angkot di jalan seberang, tapi kami malah nyari di jalan depan penginapan. Walhasil kami muter dulu. Nggak salah-salah juga sih. Gimana ya menjelaskannya? Analogi hiperbolisnya, misalkan penginapan itu kota Surabaya dan ITB itu kota Denpasar, kami naik angkot yang lewat Surabaya tapi muter dulu ke Semarang, habis itu balik ke Sidoarjo, baru deh ke Denpasar. Mestinya kan nyegat-nya di Sidoarjo aja😐

Nggak sampai di situ aja, karena angkot yang kami naiki nggak lewat depan (atau belakang) ITB, kami diturunkan di sebuah pertigaan dan disuruh naik angkot lain yang lewat depan (atau belakang) ITB. Katanya, “Masih jauh, naik angkot itu aja,” sambil nunjuk sebuah angkot.

Ternyata, jarak dari pertigaan ke ITB cuma sekitar 1-2 km.

You could have told us, Sir!

Mungkin emang beda interpretasi kata “jauh” aja kali ya?

Di ITB ngapain? Nggak ngapa-ngapain! ITB Fair-nya udah selesai tanggal 5 (hari sebelumnya), jadinya ya kami muter-muter aja. Duduk-duduk, foto-foto, njajan nggak jelas, dan ngomongin masa depan gitu deh (apasih!).

Kunjungan ke ITB (Photo by Arif)

Di dekat ITB ternyata ada semacam penyewaan kuda. Aslinya pengen banget tuh naik. Bayanginnya keren aja naik kuda, kaya ksatria di novel-novel fantasi yang aku baca (halah!). Tapi ujung-ujungnya nggak jadi. Takut dilemparin sama kudanya (eaaa!)

Berbekal insting dan tanya-tanya orang lewat, kami balik ke penginapan jalan kaki. Jalan kaki! Niatnya sih pengen membuktikan jauh enggaknya jarak Cihampelas – ITB. Dan ternyata emang lumayan jauh dan melelahkan. Hahaha.

[Jalan Braga]

Atas inisiatif beberapa anak, hari Senin malamnya kami (anak-anak yang udah di penginapan, termasuk anak ITS, Unair, Undip, ITB, Unpad, dll) pergi jalan-jalan. Kami dipandu oleh tuan rumah dari ITB dan Unpad yaitu Bang Nanang dan Bang Enggi. Dengan “menyewa” dua angkot, kami pergi ke Braga, daerah yang katanya adalah jantung kota Bandung.

Dari yang aku baca sih, katanya pada awal abad 20 Braga ini dijuluki “de meest Europeesche winkelstraat van Indie” atau “jalan pertokoan paling (bernuansa) Eropa di seluruh Hindia”. Mungkin kaya Champs-Élysées-nya Paris kali ya? (yang ini ngarang banget!)

Pas kami ke sana, pertokoannya banyak yang tutup soalnya udah malam. Dan memang, bangunannya agak ke-eropa-eropa-an gitu (sotoy). Aku sempat melihat tulisan berbahasa Belanda di beberapa bangunan di Jalan Braga ini. Dan yang paling aku ingat sih jalanannya yang bukan aspal tapi dari bebatuan andesit. Keren dan kelihatan beda sih. Sayangnya di beberapa ruas jalan, bebatuannya udah mulai rusak.

Jalannya dari andesit (Photo by me)

Di ujung Jalan Braga ada Jalan Asia Afrika. Kami sempat foto-foto juga di depan Gedung Merdeka, Gedung Asia Afrika, dan Alun-alun.

Berfoto di Braga (Photo by Enggi)

Di depan Gedung Merdeka (Photo by Enggi)

Setelah puas jalan-jalan di Braga, kami balik ke penginapan sekitar jam 10-an malam.

[Rumah Stroberi]

Hari Selasa-nya, pihak Semen Gresik dan Pilar Communication sudah mempersiapkan agenda buat kami seharian. Tujuan pertamanya adalah Rumah Stroberi yang ada di Jalan Sersan Bajuri, Lembang, Bandung. Oh, jangan tanya itu di daerah mana dan seberapa jauh dari Cihampelas karena begitu duduk di kursi bus yang mengantar kami, aku langsung tertidur :-p

Seperti namanya, di Rumah Stroberi ini kami bisa memetik stroberi sendiri. Wah, anak segitu banyak, bisa menghabiskan stroberi satu kebun dong? Kalau masing-masing anak boleh memetik sepuasnya, kayaknya bakalan seperti itu, tapi dari pihak sononya, kita dikasih tahu bahwa masing-masing anak hanya boleh memetik maksimal 10 buah stroberi. Selebihnya bakalan kena charge individu.

Memetik stroberi pun harus tetap narsis (Photo by Avi)

Pose bersama di Rumah Stroberi (Photo by Avi)

Oke, karena post ini sudah panjang banget, itu dulu cerita kunjungan pertamaku ke Bandung. Nanti bakalan ada sambungannya di Part 2, yang bakal membahas kunjungan ke Saung Angklung Udjo, kunjungan ke Trans Studio, dan acara inti Gathering.

Catch. You. Later.

 
2 Comments

Posted by on February 22, 2012 in Blog

 

Tags: , , , , ,

2 responses to “A Trip to Paris (van Java) – Part 1

  1. Fuad Zaki Purnomo

    February 28, 2012 at 9:42 pm

    Saya belum pernah ke sini.
    Bukan untuk keluarga Anda.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: