RSS

[Resensi] The Silkworm – Robert Galbraith

25 Jan
Cover Silkworm - Ulat Sutra

Cover Silkworm – Ulat Sutra

Judul: The Silkworm – Ulat Sutra
Seri: Cormoran Strike #2
Penulis: Robert Galbraith
Penerjemah: Siska Yuanita dan M. Aan Mansyur (kutipan bab)
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit / Halaman: Cetakan I, 2014 / 536 Halaman
Genre: Mystery Thriller, Crime, Detective

Di tengah popularitasnya menjadi detektif partikelir, Cormoran Strike didatangi seorang perempuan bernama Leonora Quine yang meminta bantuan untuk menemukan suaminya yang hilang.

Owen Quine, suami Leonora, adalah seorang penulis biasa. Ia pernah membuat sebuah karya masterpiece namun tak pernah bisa mengulang prestasinya itu. Menurut orang sekitarnya, sebelum menghilang, Owen berencana akan mempublikasikan novel terbarunya, Bombyx Mori, yang isinya menghujat dan membuka aib banyak orang.

Ketika mencari clue dengan menanyai orang-orang di penerbitan, Strike mengetahui bahwa naskah Bombyx Mori ternyata sudah dibaca banyak orang. Bombyx Mori, bahasa latin untuk Ulat Sutra, bercerita tentang Bombyx, seorang penulis yang disakiti oleh orang-orang di sekitarnya. Banyak yang menduga kisah Bombyx merupakan kisah Owen, dan tokoh-tokoh dalam novel tersebut adalah versi olok-olok dari orang-orang yang ada di kehidupan Owen.

Owen Quine akhirnya ditemukan. Dalam keadaan tak bernyawa. Ia ditemukan dalam keadaan diikat di meja makan di rumah peninggalan mendiang sahabatnya dalam kondisi mengenaskan. Persis dengan kondisi akhir Bombyx dalam naskah yang sedang ramai dibicarakan itu.

Walaupun investigasi kemudian menjadi tanggung jawab polisi, Strike, atas permintaan Leonora, mencari pelaku pembunuhan kejam tersebut. Tim forensik kesulitan menentukan waktu terbunuhnya Quine karena tubuhnya disiram zat asam. Penyelidikan juga menjadi tidak mudah karena naskah Bombyx Mori, yang diduga kuat menjadi motif pembunuhan, telah dibaca setidaknya seisi kantor penerbitan.

Investigasi Strike kemudian berfokus pada tujuh orang memiliki kemungkinan membaca naskah Bombyx Mori sebelum Owen menghilang, yang juga yang disebutkan Owen dalam naskah tersebut: Leonora Quine (istri Owen), Elizabeth Tassel (agen penerbitan Owen), Kathryn Kent (kekasih Owen), Jerry Waldegrave (editor Owen), Michael Fancourt (mantan rekan penulis), Daniel Chard (penerbit), dan Pippa Midgley (murid menulis Owen).

Polisi menetapkan seorang tersangka, namun Strike yakin bukan dia pembunuhnya. Dibantu Robin, asistennya, Strike mengunjungi lorong-lorong gelap dan jalanan yang diguyur hujan lebat demi berusaha mencari pembunuh keji tersebut dan berusaha membuktikan bahwa, sekali lagi, dugaan polisi salah.

Awalnya saya nggak begitu yakin bisa menyelesaikan membaca novel ini dengan cepat mengingat saya membutuhkan waktu cukup lama menyelesaikan buku pertama seri Cormoran Strike, The Cuckoo’s Calling. Bukan karena jelek; saya suka ceritanya, namun menurut saya, The Cuckoo’s Calling terlalu tebal, terlalu berbelit-belit, dan memiliki terlalu banyak cerita tak relevan untuk sebuah novel detektif. Saya berniat membaca bab-bab awal The Silkworm untuk dilanjutkan ketika sudah senggang, namun ternyata cerita di The Silkworm ini seru dan kasusnya cukup menyita perhatian.

Deskripsinya sangat detail. Mungkin hal ini mengganggu untuk orang yang tinggal atau sudah mengenal lokasi-lokasi yang diceritakan di buku ini, namun menurut saya, ini membantu. Saya jadi bisa membayangkan gambaran bagaimana si detektif berjalan di dinginnya hujan es di pagi hari di London, bagaimana bentuk bangunan pub di kota tua tempat Cormoran menemui seseorang, atau bagaimana sulitnya menuju stasiun kereta ketika tungkainya sedang sakit dan si detektif harus mengenakan kruk.

Ye Olde Cheshire Cheese, salah satu setting lokasi di The Silkworm. (gambar dari tntmagazine.com)

Ye Olde Cheshire Cheese, salah satu setting lokasi di The Silkworm. (gambar dari tntmagazine.com)

Deskripsi detail di buku ini sangat dibantu dengan terjemahan yang (sangat) bagus. Mungkin kalau terjemahannya tidak seenak ini untuk dibaca, saya sudah meletakkan The Silkworm dari bab-bab awal. Memang ada beberapa kalimat atau kata yang terasa asing buat saya, tapi itu tidak mengganggu kenyamanan membaca.

Robert Galbraith tidak menggambarkan Cormoran Strike sebagai karakter yang menawan. Dia tidak tampan, kaya, ataupun humoris seperti karakter detektif di serial tv. Dia mantan militer bertubuh besar, berambut jembut, dan harus menggunakan kaki palsu atau kruk untuk membantunya berjalan. Seperti buku pertama, sambil bercerita progress penyelidikan kasus, penulisnya menceritakan masa lalu dan latar belakang Cormoran, yang menjadikannya seperti sekarang. Saya suka bagaimana sahabat dan pengalamannya ketika menjadi anggota militer terbukti banyak membantunya memecahkan kasus. Saya terutama suka quote di halaman 467, “…Jika Anda mengharapkan persahabatan seumur hidup dan kesetiakawanan yang tidak egois, bergabunglah dengan militer dan belajarlah membunuh…”

Cormoran Strike mungkin bukan karakter yang gampang disukai dari awal, tapi berbeda halnya dengan Robin Ellacott. Gadis cantik berambut pirang berusia pertengahan dua puluhan ini sudah mencuri perhatian sejak di The Cuckoo’s Calling. Dia mewakili pembaca sebagai orang yang awam terhadap dunia investigasi. Jika Cormoran adalah Sherlock Holmes, Robin adalah Watson-nya. Robin lah yang yang membuat saya bertahan menyelesaikan membaca The Cuckoo’s Calling. Di buku ini dia mendapat porsi cerita yang lebih banyak dan membuktikan bahwa dia memiliki keahlian lebih daripada sekedar seorang sekretaris.

Salah satu hal yang saya apresiasi dari buku ini adalah bagaimana penulis menempatkan teknologi modern di cerita detektif. Cormoran memang bukan Sherlock Holmes ataupun Hercule Poirot. Dia detektif yang hidup di dunia modern dengan segala kecanggihannya. Untuk mencari tahu profil, nomor telepon, atau alamat seseorang saja, detektif tak perlu lagi berpetualang dan bertanya pada orang-orang tertentu. Cukup mencari tahu lewat website atau akun media sosialnya saja. Bisa terkesan membosankan memang, jika teknologi terlalu banyak digunakan, novel ini tidak akan ada bedanya dengan serial tv detektif yang ada. Namun dengan ramuan yang tepat, kecanggihan teknologi tersebut bisa dimanfaatkan tanpa membuat cerita menjadi membosankan, seperti di buku ini. Robert Galbraith juga banyak menyisipkan etika bertelepon dan menggunakan ponsel ketika bertemu seseorang. Sesuatu yang saya rasa hal biasa, membalas sms ketika sedang makan bersama misalnya, ternyata bisa dianggap sesuatu yang tidak sopan.

Saya suka bagaimana kasus ini diselesaikan dan bagaimana si detektif melakukan pembuktian. Dugaan saya tentang siapa pembunuhnya dan apa motivasinya ternyata meleset jauh. Dan, setelah membaca The Silkworm, saya dengan senang hati menunggu kelanjutan cerita Cormoran Strike dan Robin Ellacott. (Dan tentu saja, saya juga menunggu versi adaptasi serial tv-nya)

4.5 bintang untuk The Silkworm🙂

 
4 Comments

Posted by on January 25, 2015 in Review

 

Tags: , , ,

4 responses to “[Resensi] The Silkworm – Robert Galbraith

  1. Uniek Kaswarganti

    February 9, 2015 at 1:49 pm

    Wah iya nih, klo diadaptasi jadi film tv asik banget tentunya🙂

     
    • m. ulinnuha

      February 9, 2015 at 2:14 pm

      semoga jadinya bagus.. penasaran siapa yang bakal memerankan Cormoran dan Robin😀

       
  2. tia

    February 18, 2015 at 7:41 am

    lin baca ini tanpa baca the cuckoo’s calling masi bisa nyambung ga? atau harus baca yg the cuckoo’s calling dulu? itu tebal sekali soalnya. -.-

     
    • m. ulinnuha

      February 18, 2015 at 9:01 am

      kyknya masih nyambung, ini ceritanya lepasan kok.. ada sih sedikit nyinggung buku pertama dan bahas masa lalunya cormoran & robin yang dibahas di buku pertama juga.. tapi cerita utamanya bisa nyambung tanpa baca cuckoo’s calling..

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: